Melihat Langsung Piramida di Sudan


Melihat Langsung Piramida di Sudan

Bermediasi- Pengalaman lihat langsung Pyramids of Meroe di Sudan, Afrika tidak akan terlewatkan. Benar-benar, peninggalan riwayat yang mendunia ini membuat takjub! 

Sampai kini, kata Piramida benar-benar sama dengan Mesir. Mungkin kita cuma tahu Piramida cuma berada di Mesir. Tetapi berdasar bukti, nyatanya Piramida ada juga di Sudan. 

Banyaknya juga semakin banyak. Sampai pada akhirnya, jadi satu hal harus buat orang Indonesia untuk berkunjung ke Piramida Meroe saat sedang ada di Sudan. 

Piramida Meroe terdapat di Kota Shendi, satu diantara kota di Sudan. Jaraknya seputar 250 km. dari ibu kota Sudan, Khartoum. 

Kami berencana perjalanan kesana. Perjalanan ke Piramida Meroe memerlukan waktu rata-rata tiga jam dari tempat kami tinggal. Sebagian besar orang Indonesia pergi kesana semenjak pagi buta, supaya sampai disana seputar jam 10. Sebelum pucuk panasnya matahari, mereka kembali pada Khartoum. 

Tetapi kami ingin coba perjalanan kesana di waktu yang berlainan. Gagasan kami ialah pergi sesudah waktu zuhur (seputar jam 2 siang waktu Sudan). Dengan waktu pintas umumnya, kami dapat datang disana waktu sore hari, serta nikmati sunset di padang sahara. Sesudah hari mulai gelap, kami kembali pada rumah kami. 

Untuk memuluskan gagasan perjalanan itu, kami mengawali perjalanan waktu jam dua siang, pas sesudah waktu zuhur di Sudan. Keseluruhan rombongan sampai 15 orang, dengan dua salah satunya ialah masyarakat Sudan sebagai supir serta rekan sang supir. 

Selama perjalanan, jalanan dihiasi oleh gurun. Tidak ada bangunan selama jalan, cuma ada dataran pasir serta bukit-bukit bebatuan yang ikut menghiasi panasnya Sudan di siang itu. 

Sepanjang perjalanan, kami tentu saja mengharap semua berjalan sesuai dengan gagasan. Tetapi sayangnya, jalan di Sudan tidak ada yang lurus. Gagasan hanya gagasan. Beberapa hal di luar sangkaan berlangsung. 

Hangatnya Sudan serta aspal jalanan Sudan adalah gabungan hebat. Gabungan mereka membuat dua ban mobil yang kami tumpangi memiliki masalah. 

Persoalan ban mobil baru usai saat hari telah mendekati gelap. Sedang jarak kami ke arah piramida masih jauh, memerlukan waktu pintas seputar satu jam. 

Kami dirundung kebingungan. Apa berarti bila sampai sana pada malam hari? Tidak ada apa pun yang dapat disaksikan saat hari telah gelap. Tempuh jalan pulang di rasa rasa-rasanya berat, sebab kami telah tempuh perjalanan sejauh 200 km.. 

Apa perjalanan harus usai serta kami kembali pulang? Untuk satu pengalaman baru, kami masih meneruskan perjalanan. 

Sepanjang perjalanan, ada dua pos kontrol. Sebab kami adalah orang asing, kami harus tunjukkan jati diri kami, supaya petugas pemeriksa tahu jika kami bukan masyarakat yang keberadaannya illegal. Apesnya, ada tiga orang dari kami yang tidak bawa paspor. Paspor mereka ditahan oleh faksi universitas. Insiden itu membuat kami harus melapor ke kepolisian ditempat, bila ingin meneruskan perjalanan. Faksi kepolisian tidak mau kecurian dengan masuknya orang yang tidak baik ke wilayah mereka. 

Itu adalah proses lapor pertama yang perlu kami kerjakan. Saya serta satu temanku jadi orang yang disuruh infonya oleh faksi kepolisian. Proses memerlukan waktu lumayan lama, sampai seputar jam sembilan malam waktu Sudan. Besok pagi kami harus melapor ke faksi kepolisian yang lain sebagai penanggung jawab pariwisata kota Shendi. Mengagumkan, kami semua betul-betul tidak ada yang menduga perjalanan jadi semacam ini. 

Pada akhirnya, kami harus bermalam di hotel ditempat. Hotel itu adalah hotel bintang tiga, yang simbol tiga bintangnya menyangsikan kami. Apa ini yang Sudan tujuan dengan hotel bintang tiga? Hehe maklumlah ini adalah standard Sudan. Kami semua tidak ada yang menduga kami akan bermalam malam itu. Tidak ada yang bawa persiapan untuk bermalam. Tetapi sebab kami sudah semua capek, pada akhirnya tidur jadi nikmat. 

Besok paginya, kami meneruskan perjalanan. Mentari pagi memeluk kami. Teriknya langit Afrika seolah menerangkan pada kami jika bumi Afrika memang keras, tidak segampang yang dipikirkan. Mungkin kita dapat tarik rangkuman, bila semua dapat dipersulit, kenapa harus dipermudah? 

Setelah melapor, supir langsung tancap gas ke arah Piramida. Pada akhirnya kami sampai juga. Bentangan Piramida terbentang luas di depan kami. Banyak pemilik unta langsung mendekat mengarah kami, mengharap kami ingin membayar mereka untuk coba pengalaman naiki unta di padang pasir. 

Disana ada beberapa Piramida. Tetapi sayangnya, banyak Piramida yang telah memiliki bentuk tidak segagah dulu. Ada yang kepalanya hilang, ada yang memiliki bentuk entahlah mungkin seperti digigit raksasa, dan lain-lain. Tetapi, rasa ingin tahu kami hilang. Perjalanan yang benar-benar jauh serta melelahkan terbayar dengan pengalaman pertama kami menginjakkan kaki di padang pasir. Kami sukses memandang Piramida dengan mata kami. 

Kami melingkari semua Piramida, tanpa ada kecuali. Kami tidak ingin tertinggal satu peristiwa juga, sebab entahlah kapan kami akan kembali pada sini. Kami abadikan semua peristiwa disana. 

Pada saat kami memandangi piramida-piramida, ada dua masyarakat Eropa yang bertandang ke Piramida Meroe. Satu wanita datang dari Swiss, serta satu datang dari Jerman. Mereka kerja di United Nations, serta sedang bekerja di Sudan. Pengalaman yang mengagumkan. 

Panas nya Sudan tidak melunturkan semangat kami lihat jejak bersejarah ini. Tetapi sayangnya saat kami masih asik melihat-lihat situs bersejarah itu, sang supir berteriak menyebut kami untuk selekasnya pulang. Rupanya, ban mobil kami memiliki masalah sebab suhu yang hangat, ditambah padang pasir yang kurang berteman. 

Akhirnya sesudah seputar satu jam kami menginjakkan kaki disana, kami kembali pulang ke tempat kami. Ini adalah pengalaman unik yang tidak pernah kami lupakan. 

Mencari padang pasir adalah satu hal yang menarik. Ditengah-tengah hangatnya matahari Sudan, kau dapat dapatkan bangunan unik dengan nuansa riwayat yang kental. Saya mempunyai mimpi untuk berkunjung ke Dubai. yang mempunyai padang pasir luas. Perbedaannya dengan Sudan, Dubai dapat mendatangkan keelokan yang mengagumkan ditengah-tengah sahara. Keelokan Burj Khalifa salah satu bukti, saat gedung paling tinggi di dunia nyatanya berada di Timur Tengah, atau lebih persisnya Dubai. 

Saya ingat saat perjalananku ke Qatar. Negara teluk, berhiaskan gedung-gedung menjulang tinggi. Mataku sukses dimanja dengan Doha Corniche. 

Satu hal yang mengejutkanku saat di Qatar ialah saat saya serta temanku berkunjung ke satu diantara tempat makan. Mesin mobil masih dibiarkan menyala. Kita keluar tinggalkan mobil dengan mesin menyala, tanpa ada digembok. 

Karena itu tentu saja bisa menjadi pengalaman yang benar-benar menarik saat dapat lihat megahnya Dubai dengan mataku sendiri. Burj Al Arab, Palm Jumairah yang eksotis, dan nuansa vintage ala Bastakia Quarter jadi tempat yang harus didatangi jika saya mempunyai peluang bertandang ke Dubai. 

Mudah-mudahan mimpiku ini dapat jadi fakta. Itu bisa menjadi pengalaman yang benar-benar bernilai, buat orang yang suka pada travelling seperti saya. 

UPDATE TERSEDIA LIVECHAT POKER757 
DENGAN VERSI ANDROID & IOS
KLIK DI BAWAH INI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melihat Langsung Piramida di Sudan"

Post a Comment